4.
pesebaran penduduk tidak merata
- · 57,50% penduduk Indonesia ada di jawa
- · DKI Jakarta menjadi provinsi terpadat
- · papua menjadi paling sedikit penduduknya
Pemerataan
Persebaran Penduduk Dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan industri
di wilayah yang jarang penduduknya. Untuk mencegah migrasi penduduk dari desa
kekota, pemerintah mengupayakan berbagai program berupa pemerataan pembangunan
hingga ke pelosok, perbaikan sarana dan prasarana pedesaan, dan pemberdayaan
ekonomi di pedesaan.
5. tingginya arus migrasi dari desa
ke kota
Faktor Pendorong dari
Desa
Faktor pendorong dan
desa yang menyebabkan terjadinya urbanisasi adalah sebagai berikut:
- · Kurang dan terbatasnya kesempatan kerja atau lapangan kerja di pedesaan.
- · Upah kerja di pedesaan relatif rendah.
- · Fasilitas dan infrastruktur kehidupan di pedesaan kurang tersedia dan tidak memadai.
- · Tanah pertanian di pedesaan banyak yang sudah tidak produktif karena tidak subur atau mengalami kekeringan.
- · Kehidupan pedesaan lebih monoton daripada perkotaan.
- · Timbulnya bencana di pedesaan, seperti banjir, gempa bumi, kemarau panjang, dan wabah penyakit.
- · Momentum hari raya atau hari-hari tertentu.
Faktor Penarik dari
Kota
- · Kesempatan kerja di perkotaan lebih banyak dibandingkan dengan di pedesaan.
- · Upah kerja yang tinggi di perkotaan.
- · Kota sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan teknologi sangat menarik untuk kehidupan sosial.
- · Tersedia beragam fasilitas kehidupan dan infrastruktur, seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, transportasi, rekreasi, dan pusat-pusat perbelanjaan.
Dampak Urbanisasi
Dampak Positif
Urbanisasi Bagi Desa
Dampak positif
urbanisasi bagi desa (daerah asal) sebagai berikut:
- · Bagi desa yang padat penduduknya, urbanisasi dapat mengurangi jumlah penduduk.
- · Meningkatnya kesejahteraan penduduk desa melalui kiriman uang dan hasil pekerjaan dari keluarga yang bekerja secara layak di kota.
- · Mendorong pembangunan desa karena penduduk telah mengetahui kemajuan dikota.
- · Mengurangi jumlah pengangguran di pedesaan.
Dampak Negatif
Urbanisasi Bagi Desa
Adapun dampak negatif
urbanisasi bagi desa sebagai berikut:
·
Desa
kekurangan tenaga kerja untuk mengolah pertanian karena sebagian besar
penduduknya pindah ke kota.
·
Perilaku
yang tidak sesuai dengan norma setempat akibat contoh dari gaya hidup di
perkotaan sering ditularkan di kehidupan pedesaan.
·
Desa
banyak kehilangan penduduk yang memiliki potensi dan berkualitas.
Dampak Positif
Urbanisasi Bagi Kota
Dampak positif
urbanisasi bagi kota sebagai berikut:
·
Kota
dapat memenuhi kebutuhan jumlah tenaga kerja.
·
Semakin
banyaknya sumber daya manusia yang berpotensi dan berkualitas.
Dampak Negatif
Urbanisasi Bagi Kota
Dampak negatif
urbanisasi bagi kota sebagai berikut.
·
Meningkatnya
pengangguran di perkotaan
·
Munculnya
tunawisma, tunasosial dan gubuk-gubuk liar di kota.
·
Meningkatnya
kemacetan lalu lintas.
·
Meningkatnya
kejahatan, pelacuran, perjudian, dan bentuk masalah sosial lainnya.
(http://www.radarplanologi.com)
6. rendahnya kualitas penduduk
Berikut ini adalah
fakta-fakta yang menyangkut bahwa negara Indonesia masih memiliki kualitas
penduduk yang rendah :
1. Tingkat Pendidikan
yang rendah
Tingkat pendidikan
berkaitan erat dengan kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Bidang pendidikan merupakan kunci utama kemajuan sebab melalui jalur pendidikan
dapat mempercepat proses alih teknologi dari negara maju dan juga mendorong
penemuan teknologi baru. Tingkat pendidikan penduduk yang tinggi memungkinkan
penduduk dapat mengolah sumber daya alam dengan baik sehingga kesejahteraan
penduduk dapat segera diwujudkan.
2. Tingkat Kesehatan
yang Rendah
Produktivitas
seseorang sangat ditentukan oleh tingkat kesehatannya. Tingkat kesehatan suatu
negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian, terutama kematian bayi dan
ibu saat melahirkan. Kesehatan berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan
pangan, sandang dan papan. Apabila salah satu kebutuhan tidak terpenuhi maka
dapat terganggulah kesehatannya.
3. Tingkat Daya Beli
yang Rendah
Badan Pusat Statistik
(BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2005 berdasarkan
perbandingan daya beli atau purchasing power parity (PPP) berada di urutan
keempat di kawasan Asia Pasifik, di luar Korsel dan Jepang, atau hanya kalah
dari China, India, dan Iran. Perbandingan daya beli, jelasnya, merupakan
perbandingan biaya yang harus dibayar penduduk atas produk yang sama dengan
kualitas yang sama di 23 negara di kawasan Asia Pasifik.
(http://quality-of-population.blogspot.co.id)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar